Persahabatan Membawa Berkah.indo


Saat itu hujan turun cukup deras. Seorang anak perempuan berseragam SMP turun dari sebuah bus. Ia berlari menuju sebuah gubuk tua reyot yang ukurannya tak lebih dari 5×5 m, yang tak lain adalah rumahnya. Tasnya yang lusuh didekap erat berharap buku-buku pelajarannya tidak basah. Sampainya di rumah dia menggigil kedinginan. Dua orang anak kecil menyambutnya dengan bahagia, anak itu hanya tersenyum lalu segera mengganti bajunya yang basah.

Nama anak itu Arini, dia duduk di kelas 2 SMP negeri ternama di Jakarta. Jangan tanya mengapa karena memang dia anak yang sangat pintar sehingga dirinya mendapatkan beasiswa. Arini tidak seperti anak biasa yang setelah pulang sekolah bermain atau menghabiskan waktu bersama keluarga. Biasanya setelah pulang sekolah, ia bekerja sebagai tukang semir sepatu. Tetapi sepertinya hari ini dia harus libur dulu dari pekerjaannya karena hujun cukup deras. Bukannnya senang karena dapat libur, dalam hatinya malah menyesal dan sedih. Ia lalu menjemur bukunya yang basah di atas meja lalu ia menunggu ibunya yang tengah terbaring di tempat tidur. Beban terasa lebih berat ketika ibunya sakit-sakitan sejak ayahnya meninggal 3 bulan lalu dan dari saat itu pula ia yang menjadi tulang punggung keluarga sebagai tukang semir sepatu.

Tiba-tiba adiknya yang tertua, Tania mendekatinya. “Kak, tadi ibu batuk-batuk terus. Batuknya berdarah” kata Tania dengan polosnya. Arini kaget mendengarnya. Namun tiba-tiba terdengar suara lembut yang menyahut. “Ibu nggak apa-apa, kok, Rin. Huk…huk….” kata ibu sambil terbatuk-batuk.

Tuh, kan. Nggak apa-apa bagaimana?  Batuknya sampai berdarah kalau Ibu kenapa-napa? Kan bahaya” kata Arini cemas. “Pokoknya besok kita ke puskesmas, ya, Bu” lanjutnya. “Memang kamu punya uang?” tanya ibu. “Sudahlah, Bu. Soal uang biar Arini yang pikirin yang penting Ibu istirahat sama minum obat. Obat yang kemarin masih ada? Kalau masih ada masih diminumkan obatnya?”

“Aduh, Rin, kamu itu ngurusin Ibu terus kapan kamu urusin diri kamu sendiri. Huk… Harusnya kamu itu belajar yang tekun, sekolah yang tinggi. Bukannya kerja kayak gini. Maafkan Ibu, ya, Nak. Oh, iya. Bagaimana sekolah kamu?” kata ibu penuh kasih.

“Ih, Ibu, kok kaya gitu, sih. Pokoknya Ibu nggak perlu mikirin hal itu. Soal sekolah, alhamdulillah sekolah Arin lancar. Eh, Ibu, kok ngalihin pembicaraan. Obatnya mana? Biar Arin bantuin minum. Ibu rajin, kan, minum obatnya?” tanya Arini lembut. “Hmm… Obat Ibu sudah habis tiga hari lalu, Rin” kata ibu hati-hati. “Lho, Ibu, kok, nggak bilang Arini, sih?” tanya Arini kaget.

“Arin, Ibu nggak mau kalau kamu itu jadi pusing mikirin Ibu. Huk… Ibu nggak mau kamu susah, Nak. Kamu, kan sudah sekolah harus kerja pula. Mana Ibu tega mengatakan ini sama kamu” kata ibu lagi.

“Bu, Ibu, kan sedang sakit masa Arini nggak mikirin Ibu, sih? Emang Arini anak apaan tega banget sama orang tua Arin sendiri? Hitung-hitung juga buat balas budi sama Ibu yang sudah ngebesarin Arin sampai sebesar ini” jawab Arini sambil mengganti kompres ibunya. “Ya sudah Ibu ngalah. Sekarang kamu belajar terus tidur, Ibu nggak apa-apa, kok” suruh ibu pada Arini.

“Kalau begitu Arini belajar dulu, ya, Bu. Kalau ada apa-apa panggil Arin, ya, Bu”. Arini pun pergi belajar. Ibunya yang melihat anaknya begitu berbakti kepadanya pun hanya bisa berdoa, memohon kepada yang Mahakuasa untuk kebahagiaan Arini dunia akhirat yang sekarang mungkin belum bisa dia berikan kepada Arini. Seperti biasa Arini belajar sampai jam sebelas malam. Setelah itu dia tidur, tidur di tengah suara gemericik air hujan yang jatuh berselimutkan doa sang ibu.

Pagi harinya Arini berangkat ke sekolah. Adiknya, Tania yang seharusnya sekarang masuk TK tidak sekolah karena keterbatasan biaya. Dan Ari, adiknya yang baru berumur tiga tahun bersama Tania menjaga ibunya. Arini merasa tenang meninggalkan mereka sebab dia sudah menitipkannya kepada tetangga sebelah rumahnya. Sebelum Arini berangkat, ia berpamitan terlebih dahulu kepada ibunya.

“Bu, Arin berangkat dulu, ya” kata Arini sambil bersalaman dengan ibunya. Lalu diciumnya tangan ibunya.

“Ya. Hati-hati, ya, Nak” balas ibunya.

Seperti biasa, hari itu Arini naik bus. Sekitar 15 manit kemudian, ia tiba di sekolah. Setibanya disekolah ia disambut hangat oleh sahabatnya, Dini. Walaupun Dini termasuk anak keluarga kaya, tapi dia tidak malu berteman dengan Arini

“Arin, kenapa kamu murung? Kamu mikirin ibumu, ya? Bagaimana kabar ibumu? Sudah baikan?” berondong Dini yang merasa cemas melihat sahabatnya yang dari tadi murung.

“Itu dia Din, aku juga lagi bingung. Akhir-akhir ini kayaknya ibu makin parah. Dan ternyata obat ibu sudah habis dan nggak mau ngasih tau ke aku. Belum lagi, biaya pengobatan ibu. Uang buat obat juga. Bagaimana ini? Untuk makan sehari-hari saja susah” curhat Arini.

“Maaf, ya, Ar, aku nggak tahu kalau masalah kamu seberat ini. Kira-kira apa yang bisa aku bantu? Pasti aku bantu, kok. Tapi, maaf hari ini aku lagi nggak bawa apa-apa untuk ibumu. Besok, deh, aku bawa” tawar Dini.

“Ya, ampun Din, memang  kamu punya hutang budi apa sama aku?” tanya Arini. “Iya nggak, sih. Tapi akukan sebagai sahabat yang baik harus bantu kamu” jawab Dini tulus. “Din, kamu tuh sahabat aku yang paling baik. Kamu sering traktir aku di kantin itu sudah lebih dari cukup“ canda Arini. Sungguh, ia tak mau kalau persahabatannya dengan Dini dartikan bahwa dia hanya ingin memanfaatkan Dini yang anak orang kaya.

“Ya sudah, tapi aku benar-benar minta maaf. kalau begitu nanti pulang sekolah kita belajar di rumahmu, ya, sekalian aku nengok ibumu” ajak Dini. “Bukan aku nggak mau, Din, tapi aku harus nganterin ibu ke puskesmas terus aku harus kerja” kata Arini. “Oh, begitu, ya. Hmmm…. Bagaimana kalau aku bantu kamu nyemir sepatu?” usul Dini.

“Hah? Din tangan kamu halus, nggak pantas nyemir sepatu, nanti tangan kamu kasar lagi, terus kukumu jadi hitam-hitam. Belum lagi nanti dimarain sama mama papa kamu, kan, aku juga yang repot” kata Arini tak setuju.

“Kalau urusan mama papa aku, sih, pasti ngijinin tinggal kamunya saja, Rin. Please!” pinta Dini. “Ya sudah, deh, terserah kamu. Tapi kamu tau sendirikan rumah aku gimana? Nggak apa-apa kamu ke sana?” Arini meyakinkan. “Tenang saja. Nggak apa-apa, kok”  jawab Dini yakin.

Bel masuk berbunyi. Mereka berdua pun masuk ke kelas. Di dalam kelas, Bu Guru mengatakan bahwa hari ini murid-murid dipulangkan lebih awal karena ada rapat guru. Murid-murid pun bersorak gembira. Kelas pun terdengar gaduh karenanya. Akhirnya bel pulang pun berbunyi.

Tumben, ya, Din hari ini pulang cepat?” Arini memulai pembicaraan. “Katanya, sih sekolah mau ada lomba apa gitu jadi guru-gurunya rapat gitu, deh. Eh, Rin, sekarang kita jadi ke rumahmu, kan?” tanya Dini. “Ya, terserah kamu. Kalau aku, sih, ok ok aja” jawab Arini. “Begini saja, kamu tunggu aku ganti baju dulu baru kita pergi” usul Dini. “Iya, tapi cepat, ya, nanti kesorean lagi” kata Arini. “Siipp” jawab Dini sambil mengacungkan jempolnya

Tak lama kemudian, mereka naik mobil Dini dan pergi ke rumah Dini. Sesampainya di rumah Dini.…

“Tunggu bentar, ya, Rin” kata Dini. “Ya” jawab Arini. Arini merasa kalau rumah Dini ini sangat bagus sekali, dan berharap suatu saat dia bisa memiliki rumah yang seperti ini. Tak lama kemudian, Dini keluar kamar dan telah memakai pakaian biasa. “Yuk, Rin” ajak Dini. Lantas mereka berdua pun pergi.

Tak lama kemudian mereka sampai di rumah Arini. Dini yang melihat rumah Arini merasa kasian. Dia sangat ingin membantu temannya itu. Tapi dengan apa dia harus membantu. Uang? Ia takut kalau  Arini akan tersinggung. “Assalamu’alaikum Wr. Wb. Arini pulang. Bu, ada tamu” kata Arini. “Siapa, Rin?” tanya ibu. “Ini, Bu, ada Dini, teman Arini” jawab Arini. “Oh, Nak Dini. Apa kabar?” sapa ibu. “Baik, Bu” jawab Dini. Dini merasa iba dengan keluarga Arini terutama ibunya. Ibu dan Dini pun berbincang-bincang sementara Arini ganti baju.

Setelah Arini selesai berganti baju, ia meminta ijin pada Dini untuk membawa ibunya ke puskesmas. Selesai memeriksakan ibunya, ia pun mengajak Dini menyemir sepatu, “Yuk, Din. Rini berangkat dulu, ya, Bu”. “Ya hati-hati, ya” jawab ibu.

Di jalan. Sebelum melakukan pekerjaan ini, mereka berbincang-bincang sejenak. Arini mencoba untuk meyakinkan Dini sekali lagi. “Din kamu beneran mau ikut?” tanya Arini memastikan. “Iya, dong, Rin. Kan, aku sudah janji sama kamu bakal bantuin kamu” jawab Dini. “Jangan menyesal, ya!” ledek Arini.

Lalu mereka mulai bekerja menyemir sepatu. Awalnya memang tidak ada yang mau menyemirkan sepatunya. Tapi, dengan kekuatan doa dari ibunya dan kerja keras mereka berdua, ada juga orang yang mau sepatunya disemir.

Sekitar jam 3 sore mereka pun memutuskan untuk pulang. Walaupun tidak banyak orang yang mau disemirkan sepatunya, tapi Arini tetap bersyukur karena Allah sudah memberikannya rezeki untuk dia dan keluarganya hidup besok.

“Bu, Arin pulang” kata Arini.

“Sudah pulang, ya? Dapat berapa hari ini, Rin?” tanya ibu.

Alhamdulillah, Bu, dapat 30 ribu sedangkan Dini dapat 11 ribu. Hebat, ya, Bu baru pertama saja sudah dapat segitu. Jangan-jangan kamu bakat kali, ya. Hehehe” ledek Arini. “Enak aja” kata Dini sambil cemberut.

“Sudah-sudah, tadi Bu Ani ngasih kita pisang. Huk… Gimana kalau kamu goreng saja. Di dapur masih ada sisa sedikit tepung, kan?” tanya ibu.

“Ya, Bu. Bentar, ya Din” Arini langsung menuju dapur untuk menggoreng pisang tadi. Sambil menuggu, Dini pun membaca buku yang ada di atas meja. Dia sangat asyik membacanya. Saat dia melihat halaman depan bukunya, dia baru tahu kalau itu adalah buku kumpulann cerpen buatan Arini.

Setelah Arini selesai menggoreng pisang, dia pun menyuguhkannya kepada Dini. “Ini, Din. Dimakan, ya. Maaf cuma ada pisang goreng saja” kata Arini. “Ya ampun, Ar. Nggak apa-apa, kok. Aku juga suka pisang goreng” kata Dini sambil mengambil pisangnya

Emm… Ar, enak lho, pisangnya” kata Dini lagi dengan mulut penuh pisang goreng. “Makasih. Biasa aja, kok, Din” jawab Arini sambil tersenyum malu. “Tapi beneran, lho, pisangnya tu krenyes-krenyes gitu dan minyaknya juga nggak bikin gatal di tenggorokan. Eh, iya, Rin, kenapa kamu nggak jualan pisang goreng aja di sekolah?” saran Dini.

“Eh, benar juga, ya? Tapi aku, kan, nggak punya modal” kata Arini.

Em… gimana kalau aku kasih kamu modal” kata Dita. Arini berpikir sebentar lalu berkata “Kamu mau kasih aku modal? Ok, deh. Tapi aku nggak mau dikasih modal sama kamu”. “Terus?” tanya Dini penasaran. “Aku pinjam uang kamu aja. Gimana? Deal?

Emm… deal” kata Dini semangat. “Eh, aku habis baca – baca buku kamu ternyata kamu itu pinter buat cerpen juga, ya. Kenapa nggak kamu kirimin aja ke majalah-majalah?” lanjutnya.

“Hmmm…..” Arini pun berfikir.

Beberapa hari kemudian sepulang sekolah

“Ini uang hasil penjualannya. Arini besok pisang gorengnya ditambahin, ya! Banyak yang suka, lho. Habisnya enak, sih. Krenyes-krenyes gitu.”kata ibu kantin

Sip gampanglah. Terima kasih, ya, Bu” kata Arini senang.

Sejak saat itu Arini berjualan pisang goreng meskipun pas-pasan tapi paling tidak itu bisa membantu mengatasi masalah keuangannya.

Dan…

“Arini…” panggil Dini sambil memegang majalah ternama di tangannya. “Lihat-lihat! Cerpen kamu yang ini dimuat di majalah Remaja. Dan cerpen kamu yang satunya ternyata berhasil menang lomba mengarang cerpen tingkat kota. Terus kamu juga diikutkan dalam lomba yang sama di tingkat provinsi. Aku tadi baca pengumumannya di papan pengumuman depan kantor guru. Hadiahnya gede, lho, Ar” lanjut Dini berapi-api. “Alhamdulillah” gumam Arini dalam hati.

Dan dengan cara itulah Arini mendapatkan rezeki untuk membeli kebutuhan – kebutuhan pokok. Orang tua Dini yang baik hati mau membantu membiayai pengobatan ibunya. Dan akhirnya ibu Arini pun berangsur – angsur pulih dan dapat kembali bekerja. Sebagai rasa terima kasihnya, dia bekerja menjadi pembantu di rumah Dini. Arini merasa berterima kasih sekali kepada Dini yang selalu membantunya mencari jalan keluar atas masalah yang dihadapi Arini. Arini merasa bahwa Dini adalah sahabat dari Tuhan. Semoga persahabatan ini akan abadi selamanya, doa Arini di setiap malam.

Surakarta, 28 November 2009

By MIRA

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s