Merapi dan Mbah Maridjan


Merapi meletus, korban jiwa pun tak terelakkan. Diketahui sebanyak 17 orang meninggal telah teridentifikasi di RS Sardjito. Mengetahui banyaknya orang meninggal tersebut pertanyaan pun muncul dimana Mbah Maridjan berada?

Pagi tadi, aku melihat berita kalau Merapi meletus sekitar jam 5 sore. Walaupun tempat tinggalku berdekatan dengan Merapi tapi aku tahu Merapi meletus baru pagi tadi. Berita pagi dimana-mana menceritakan tentang Merapi. Saat semua berita menceritakan Merapi, ternyata kemarin juga ada bencana tsunami di Mentawai dan memakan korban jiwa. Wow, pagi yang sungguh mengejutkan. Di benakku pun muncul pertanyaan ngapain aja aku kemarin sampai ketinggalan berita besar kayak gini.

Namun, ternyata berita Merapi  memalingkan perhatianku. Aku lihat perkembangannya lagi. Katanya Mbah Maridjan telah ditemukan dalam keadaan selamat. Tetapi beberapa orang ditemukan meninggal di rumah Mbah Maridjan dan sekitarnya. Aku mikir, wah hebat banget tu Mbah Maridjan yang lain pada mati, Mbah Maridjan masih hidup. Orang-orang yang meninggal itu ternyata ada seorang wartawan viva news dan relawan PMI, dan yang lain aku nggak tahu siapa aja. Diduga mereka berada di rumah Mbah Maridjan karena ingin mengajaknya turun gunung karena kondisi Merapi sudah sangat membahayakan. Pikiranku melayang lagi. Ya Allah, mereka rela ngorbanin nyawa buat seorang  Mbah Maridjan. Bukannya aku nggak percaya atau apa,  aku tahu Mbah Maridjan itu juru kunci Merapi mungkin dia dapat wangsit atau semacamnya untuk mengetahui kapan Merapi meletus atau tidak, tapi setelah kejadian ini aku bertanya, Mbah Maridjan benar-benar tahu apa nggak, sih? Bagaimana caranya dia tahu? Terus kenapa dia seyakin itu kalau Merapi nggak bakalan meletus? Padahal beberapa hari sebelumnya status Merapi sudah berancang-ancang naik ke Awas dan  tim SAR juga sudah meminta warga untuk menjauhi Merapi.

Aku tahu Mbah Maridjan itu dituruti oleh warga. Banyak warga yang tidak mengungsi hanya karena Mbah Maridjan belum mengungsi. Apakah Mbah Maridjan sadar hal itu bisa membahayakan banyak nyawa. Bukan hanya nyawanya dia saja tapi semua warga yang patuh padanya. Alhasil, Merapi benar-benar meletus dan warga pun memilih mengungsi di tengah kepanikan daripada mengungsi dengan tenang di hari yang memang sudah dihimbaukan.

Maaf banget tapi aku jadi mikir egois sekali. Orang–orang itu dikhianati oleh orang yang mereka percaya. Seharusnya merasa kalau jadi panutan banyak orang harus berikan yang terbaik kepada orang-orang yang sudah mau percaya. Oke cukup . . .

Siangnya aku baca status temenku yang isinya “innalillahi wa inailahi rojiun Mbah Maridjan Ditemukan Meninggal Dunia dalam Posisi Sujud di Dapur.” Wah, aku juga lmayan terkejut tadi katanya baik-baik saja. Terus ternyata . . . Aku pun cari berita dan ternyata benar aku melihat di berita kalau memang benar-benar ada mayat yang sedang bersujud menggunakan baju batik dan sarung yang memang diperkirakan kalau itu adalah Mbah Maridjan. Wow, meninggal saat bersujud, Subhanallah. Jam 5 sore … mungkin lagi salat Ashar😕 Atau memang Mbah Maridjan mengambil posisi tersebut untuk menghadap Yang Kuasa karena telah pasrah karena tahu Merapi akan meletus atau bagaimana? Tapi kenapa nggak segera lari aja dari pada berpose kaya gitu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s