Rambut Hujan


Ini puisi yang menurutku liriknya sangat dalam.Dengar judulnya saja nggak bakal ada yang mengira kalau ini puisi “galau”, Rambut Hujan.
Aku mengenal puisi ini ketika Pak Guru Bahasa Indonesia SMA ku meminta kita memusikalisasikan puisi. Sebenarnya kelompokku nggak dapat puisi ini. Kelompokku diminta untuk memusikalisasikan puisi Seratus Juta karya Taufik Ismail.
Tapi setelah semua tampil, puisi galau karya Beno Siang Pamungkas yang dimusikalisasikan oleh kelompok lain, jadi terdengar mellow dan sangat cocok dengan isi puisinya. Apalgi ditambah dengan alunan biola yang bisa dibilang menambah galau pada lagu tersebut. Ini benar-benar musikalisasi puisi yang paling pas antara isi puisi dan nada lagunya

Kalau mau  ngedengerin bisa diklik di sini🙂

Rambut Hujan

Petir dan gelap

Bercermin di buram

Rambut hujan november

Di kotamu yang berkeringat

Masih adakah sebuah ruang

Bagi kenangan manis

Kangen yang terlipat

Serta cinta yang terlambat

Bila ragu atau tak tega

Jangan ucapkan jawabanmu

Berikan saja isyarat

Yang dulu kita sepakati

Sehingga ku tak malu

Dan cukup waktu

Guna berkemas dan menghibur diri

Sambil menyumpah

Betapa Bodohnya dirimu

 

One thought on “Rambut Hujan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s