Mengenal Islam Lebih Dekat


 

Kita patut bersyukur kepada Allah atas segala nikmat yang Dia berikan kepada kita. Walaupun kita tidak akan mampu untuk membalasi nikmat-nikmat-Nya yang begitu banyak. Betapa banyak nikmat Allah yang telah kita lalaikan tanpa  disadari. Oleh sebab itulah Allah memerintahkan kita untuk banyak bersyukur kepada-Nya. Allah berfirman yang artinya, “Maka ingatlah kalian kepada-Ku niscaya Aku akan ingat kalian dan bersyukurlah kalian kepada-Ku dan janganlah kalian mengkufuri (nikmat)-Ku.” [Q.S. Al-Baqarah:152].

Termasuk nikmat terbesar yang telah Allah anugerahkan kepada kita adalah nikmat mengenal Islam dan menjadi pemeluknya. Banyak orang yang tidak mendapatkan karunia ini, tidak mengetahui Islam, terlebih untuk tunduk memeluk agama ini.

Kepercayaan dasar Islam dapat ditemukan pada dua kalimah shahādatāin (“dua kalimat persaksian”), yaitu “asyhadu an-laa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna muhammadan rasuulullaah” – yang berarti “Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad saw adalah utusan Allah”. Esensinya adalah prinsip keesaan Tuhan dan pengakuan terhadap kenabian Muhammad. Adapun bila seseorang meyakini dan kemudian mengucapkan dua kalimat persaksian ini, ia dapat dianggap telah menjadi seorang muslim dalam status sebagai mualaf (orang yang baru masuk Islam dari kepercayaan lamanya).

Kaum Muslim percaya bahwa Allah mengutus Muhammad sebagai Nabi terakhir setelah diutusnya Nabi Isa 6 abad sebelumnya. Agama Islam mempercayai bahwa al-Qur’an dan Sunnah (setiap perkataan dan perbuatan Muhammad) sebagai sumber hukum dan peraturan hidup yang fundamental.[12] Mereka tidak menganggap Muhammad sebagai pengasas agama baru, melainkan sebagai penerus dan pembaharu kepercayaan monoteistik yang diturunkan kepada Ibrahim, Musa, Isa, dan nabi oleh Tuhan yang sama. Islam menegaskan bahwa agama Yahudi dan Kristen belakangan setelah kepergian para nabinya telah membelokkan wahyu yang Tuhan berikan kepada nabi-nabi ini dengan mengubah teks dalam kitab suci, memperkenalkan intepretasi palsu, ataupun kedua-duanya.

Umat Islam juga meyakini al-Qur’an yang disampaikan oleh Allah kepada Muhammad. melalui perantara Malaikat Jibril adalah sempurna dan tidak ada keraguan di dalamnya (Al-Baqarah [2]:2). Di dalam al-Qur’an Allah juga telah berjanji akan menjaga keotentikan al-Qur’an hingga akhir zaman.

Adapun sebagaimana dinyatakan dalam al-Qur’an, umat Islam juga diwajibkan untuk beriman dan meyakini kebenaran kitab suci dan firman-Nya yang diturunkan sebelum al-Qur’an (Zabur, Taurat, Injil dan suhuf para nabi-nabi yang lain) melalui nabi dan rasul terdahulu sebelum Muhammad. Umat Islam juga percaya bahwa selain al-Qur’an, seluruh firman Allah terdahulu telah mengalami perubahan oleh manusia. Mengacu pada kalimat di atas, maka umat Islam meyakini bahwa al-Qur’an adalah satu-satunya kitab Allah yang benar-benar asli dan sebagai penyempurna kitab-kitab sebelumnya.

Umat Islam meyakini bahwa agama yang dianut oleh seluruh nabi dan rasul utusan Allah sejak masa Adam adalah satu agama yang sama dengan (tauhid|satu Tuhan yang sama), dengan demikian tentu saja Ibrahim juga menganut ketauhidan secara hanif (murni) yang menjadikannya seorang muslim. Pandangan ini meletakkan Islam bersama agama Yahudi dan Kristen

TIDAK ADA PAKSAAN/KEKERASAN UNTUK MEMELUK AGAMA ISLAM.

Sekalipun agama Islam adalah agama yang paling benar dan yang paling diridhoi oleh Allah SWT sebagaimana telah ditegaskan dalam Al-Qur’an; “Sesungguhnya agama yang diridhoi di sisi Allah hanyalah Islam” (Ali Imran: 19) “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Ali Imran: 85). Akan tetapi, Islam melarang umat muslim untuk memaksa orang yang memeluk agama lain untuk masuk Islam. Islam sangat menghargai toleransi beragama yang diwujudkan dengan kebebasan setiap orang untuk mempercayai dan menjalankan agama masing-masing.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: “Tidak ada paksaan dalam beragama” (Al-Baqoroh: 256). Oleh karena itu, ketika Rasulullah SAW datang ke Madinah dan membuat perjanjian dengan penduduk kota tersebut atau yang lebih dikenal dengan piagam Madinah. Salah satu butir yang menjadi kesepakatan dalam piagam tersebut adalah kebebasan beragama bagi masing-masing individu. Tidak pernah Rasulullah SAW memaksa para tetangganya yang beragama Yahudi pada saat itu untuk memeluk Islam. Bahkan yang terjadi beliau memerintahkan para sahabatnya untuk menghormati hak-hak mereka apalagi sebagai tetangga. Bahkan dalam kondisi perang pun, Islam melarang kaum muslimin untuk memaksa mereka agar mau memeluk agama Islam. Kepada mereka yang menjadi musuh, Islam memberikan tiga opsi. Tiga hal tersebut selalu beliau sampaikan kepada para komandan yang akan maju ke medan Jihad. Beliau mewasiatkan kepada mereka:

Pertama-tama, ajaklah musuh kalian untuk memeluk Islam, jika mereka menerima maka janganlah kalian memerangi mereka. Tetapi jika mereka menolak untuk masuk Islam, mintalah kepada mereka untuk membayar jizyah sebagai jaminan bagi keselamatan mereka. Jika mereka mau menerima hal tersebut, maka tahanlah diri kalian dan janganlah memerangi mereka. Tetapi jika mereka menolak untuk membayar jizyah, maka perangilah mereka. Oleh karena itu, ketika terjadi penaklukan kota al-Quds pada masa kholifah Umar bin Khotob beliau tidak memerintahkan para prajuritnya untuk mengusir kaum nashroni dari negeri tersebut, justru kholifah tersebut memberikan kebebasan kepada mereka untuk menjalankan ajaran agama mereka. Oleh karena itu, tidak ada pertentangan antara dua ayat tersebut. Karena ayat dalam surat Ali Imran menjelaskan tentang kebenaran agama Islam dan kewajiban setiap muslim untuk meyakininya. Sedangkan ayat dalam surat Al-Baqoroh menjelaskan tentang sikap kita terhadap orang yang memiliki kepercayaan yang berbeda dengan kita.

Ajaran Islam sangat jauh dari apa yang diberitakan media. Di media disebutkan bahwa Muslim dekat dengan teroris, namun setelah kenal lebih dekat, Islam jauh dari semua tudingan itu. Di semua agama ada umatnya yang jahat, namun bukan berarti agama itu jahat.

AJARAN ISLAM TIDAK BERTENTANGAN DENGAN ILMU PENGETAHUAN MODERN.

Islam merupakan kesatuan ajaran yang utuh, yang mencakup semua aspek kehidupan manusia. Islam tidak hanya membahas apa yang wajib dikerjakan dan apa yang dilarang, tetapi juga membahas apa yang perlu diketahuinya. Dengan kata lain, Islam adalah cara berbuat dan melakukan sesuatu sekaligus sebuah cara untuk mengetahui. Dalam hal ini aspek mengetahui menjadi sangat penting sehingga antara Islam dan Ilmu Pengetahuan tidak dapat dipisahkan.

Hal ini karena secara esensial Islam adalah agama ilmu pengetahuan. Islam memandang ilmu pengetahuan sebagai cara pandang utama bagi penyelamatan jiwa dan pencapaian kebahagiaan serta kesejahteraan manusia dalam kehidupan kini dan nanti. Islam menempuh jalan yang paling lurus dalam keseimbangan antara kepribadian perseorangan dan kepribadian masyarakat, serta mempersatukannya dengan tali hubungan yang kuat. Bagian pertama ketika seorang masuk agama Islam dari kesaksian iman Islam adalah ucapan, “Laa ilaha illallah” (Tak ada tuhan selain Allah), merupakan sebuah pernyataan pengetahuan tentang realitas. Kalimat ini adalah pernyataan yang secara popular dikenal dalam Islam sebagai prinsip utama/ prinsip tauhid atau keesaan tuhan. Orang Islam memandang berbagai jenis ilmu pengetahuan seperti sains, ilmu alam, ilmu sosial dan humaniora sebagai beragam bukti yang menunjukkan kebenaran bagi pernyataan yang paling fundamental dalam Islam ini.

Benturan dan ketidakcocokan antara Islam dan ilmu pengetahuan dipandang dari sisi manapun tidak akan pernah ada. Karena sesungguhnya kesadaran beragama orang Islam pada dasarnya adalah kesadaran akan Keesaan Tuhan. Semangat ilmiah tidak bertentangan dengan kesadaran religious, karena ia merupakan bagian yang terpadu dengan Keesaan Tuhan itu. Memiliki kesadaran akan Keesaan Tuhan berarti  meneguhkan bahwa kebenaran Tuhan Allah adalah satu dalam EsensiNya, dalam Nama-nama dan Sifat-Sifat-Nya, dan dalam perbuatam-Nya.

Konsekuensi penting dari pengukuhan kebenaran sentral ini adalah bahwa orang harus menerima realitas objektif kesatuan alam semesta. Seagai sebuah sumber ilmu pengetahuan, agama Islam bersifat empatik ketika mengatakan bahwa segala sesuatu di alam semesta ini saling berkaitan dalam jaringan kesatuan alam melalui hukum-hukum kosmis yang mengatur mereka. Kosmos teriri atas berbagai berbagai tingkat realitas, bukan hanya yang fisik. Tetapi ia membentuk suatu kesatuan karena ia mesti memanifestasikan ketunggalan sumber dan asal-usul metafisikanya yang dalam agama disebut Tuhan.

Semangat ilmiah para ilmuan dan sarjana muslim pada kenyataanya mengalir dari kesadaran mereka akan tauhid. Tak diragukan bahwa, secara religius dan historis, asal-usul dan perkembanga semangat ilmiah dalam Islam berbeda dari asal usul dan perkembangan sains di Barat. Tak ada yang lebih baik dalam mengilustrasikan sumber religius semangat ilmiyah dalam Islam ini daripada fakta bahwa semangat ini pertama kali terlihat dalam ilmu-ilmu agama.

Orang-orang Islam mulai menaruh perhatian pada ilmu-ilmu alam secara serius pada abad ketiga Hijriyah atau abad ke sembilan masehi. Tetapi pada saat itu mereka telah memiliki sikap ilmiyah dan ketrangka berfikir ilmiyah, yang mereka warisi dari ilmu-ilmu agama. Semangat untuk mencari kebenaran dan objektifitas, penghormatan pada bukti empiris yang memiliki dasar yang kuat, dan pikiran yang terampil dalam pengklasifikasian merupakan sebagian ciri-ciri ilmuan muslim yang sangat luar biasa.

Kecintaan ummat muslim terlebih para ulama’dan ilmuan di zamanya pada definisi-definisi dan analitis konseptual atau semantik dengan penekanan yang besar pada kejelasan dan ketepatan logis, juga sangat nyata dalam pemikiran hukum seorang Muslim maupun dalam ilmu-ilmu yang berkaitan dengan studi atas berbagai aspek al-Qur’an, seperti limu tafsir.Dalam Islam, ilmu pengetahuan logika tak pernah dianggap berlawanan dengan keyakinan agama. Bahkan para ahli tata bahasa, yang pada awalnya menentang diperkenalkanya logika Aristoteles (Mantiq) oleh para filosof muslim seperti al-Farabi, bersikap demikian karena keyakinan bahwa logika-teologis-yuridis seperti Stoics, yang dikenal sebagai adab al-jadal atau seni berdebat sudah memadai untuk memenuhi kebutuhan logika mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s