Robohnya Surau Kami: Tak Segalanya yang Baik Itu Benar?!


Tadi pertama kali aku belajar filsafat. Sedikit membingungkan tapi cukup asyik dan lucu kalau dipelajari. Terus, iseng-iseng aku buka internet dan nggak sengaja banget alias kebetulan aku nemu artikel tentang Robohnya Surau Kami. In kumpulan cerpen  emang sudah nggak asing lagi karena waktu SMA kita pernah disuruh buat penilaian tentangsuatu karya cerpen … Dan lupa kenapa aku akhirnya milih Robohnya Surau Kami.

Kumpulan cerpen A.A. Navis ini ternyata bukan sembarangan kumpulan cerpen. Cerita yang ada di sini akan bikin kamu terbelalak dengan kenyataan yang ada. Di sini aku jadi ngerti baik dan buruk, benar dan salah itu jaraknya tipis banget nyaris nggak keliatan. Aku juga jadi ngerti “Nggak semuanya yang baik itu  benar, dan nggak semuanya yang benar itu baik”. Nah, lho, bingung, kan?

Pokoknya kalau baca cerpen-cerpen Robohnya Surau Kami ini bikin kamu (mungkin) semuanya mengangguk setuju dengan apa yang uda aku sampaiin di atas. Yang pasti ini cerpen bisa bikin buka mata kita banget, deh akan persepsi benar dan salah serta baik dan buruk. Dan pastinya akan membuat kita lebih dekatlagi ama Tuhan karena kebanyakan kisah di sini bertemakan agama.

 

Tamak, serakah, rakus, atau loba adalah perilaku ingin mendapatkan sesuatu dengan sebanyak-banyaknya. Termasuk dalam pengertian ini adalah soal ketamakan dalam beribadah. Rupanya perilaku tamak tidak selalu disandingkan dengan makanan, harta, atau hal-hal lain yang sifatnya “duniawi”, melainkan juga kepada praktik ibadah yang sebetulnya lebih bersifat ukhrowi.

Paradoks inilah yang dengan tajam ditonjolkan oleh A.A. Navis dalam buku kumpulan cerpennya yang terkenal: Robohnya Surau Kami. Buku ini mengetengahkan cerpen-cerpen yang secara kuat menggugat makna keimanan, praktik ibadah keseharian, serta tujuan akhir dari praktik ibadah tersebut. Dari sebelas cerpen yang terhimpun dalam buku tersebut, saya paling suka pada dua cerpen, yaitu “Robohnya Surau Kami” dan “Datangnya dan Perginya”. Dua cerpen ini mewakili kegelisahan saya mengenai benturan-benturan yang mungkin terjadi dalam konteks iman dan ibadah terhadap Tuhan.

***

Dalam cerpen “Robohnya Surau Kami” diceritakan mengenai seorang penjaga Surau yang biasa dipanggil Kakek. Si Kakek menghabiskan waktu bertahun-tahun menjadi penjaga surau: memukul bedug di pagi buta untuk membangunkan warga di waktu Subuh, sembahyang setiap waktu, serta bertafakur berjam-jam demi memuliakan nama Tuhan. Kakek ini bahkan tak memiliki keluarga karena pilihannya hanya mengabdi kepada Tuhan. Tak ada dalam pikirannya mengenai istri, anak, atau mencari kaya dan bikin rumah. Hati dan lakunya hanya untuk Sang Maha Pencipta.

Si Kakek hidup dari sedekah yang dipungutnya setiap hari Jumat. Sekali setiap enam bulan ia mendapat seperempat dari hasil pemunggahan ikan mas dari kolam di depan surau. Dan sekali setahun ia mendapat jatah zakat firah. Sehari-harinya, selain menjadi abdi surau, Kakek dikenal sebagai pengasah pisau yang andal. Dari situ ia juga mendapatkan sekadar rokok atau uang rokok dari warga atas bantuannya itu.

Hidup tenang si kakek mulai terusik ketika seorang warga, Ajo Sidi namanya, dikenal sebagai pembual karena sering mengarang cerita, menceritakan sesuatu yang membuat hati si Kakek meradang. Betapa tidak, cerita si Ajo Sidi seolah menempelak pilihan hidupnya sebagai “abdi Tuhan” menjadi sesuatu yang tak bernilai, bahkan laknat di mata Tuhan! Ya, laknat, dan karena itu harus dijebloskan ke dalam tungku api neraka.

Dalam bualan Ajo Sidi, konon kelak di alam akhirat, manusia mengantre di hadapan Tuhan guna menerima penilaian baik dan buruk, untuk kemudian mendapat imbalan berupa surga atau neraka. Tersebutlah seorang Haji yang sudah merasa cukup amal, karena dalam kehidupannya sehari-hari di dunia tak ada lain yang diperbuatnya kecuali beribadah: menyeru, menyebut, dan mendzikirkan nama Tuhan.

Dipanggillah Haji itu ke hadapan Tuhan. Namanya Haji Saleh karena ia pernah ke Mekkah. Ditanyalah ia oleh Tuhan, apa saja yang diperbuatnya di dunia. Maka mendaraslah si Haji mengenai kesibukannya beribadah, dan tak ada jawaban lain kecuali itu. Tuhan tak puas, ditanyanya lagi. Tetapi jawabannya masih sama, dan tak ada jawaban lain kecuali sibuk beribadah. Dan Tuhan masih bertanya lagi, hingga si Haji pasrah dan tak dapat menjawab apa-apa lagi. Tetapi secara mengejutkan Tuhan memasukkannya ke neraka. Ya, neraka! Rupanya Haji yang pernah ke Mekkah ini, yang selama hidupnya hanya diperbuat untuk menyeru nama Tuhan, melaksanakan ibadah tepat waktu, tak henti-hentinya berdzikir, diganjar dengan api neraka.

Terbit rasa ketidakadilan pada diri si Haji, sehingga ia, dengan dukungan teman-temannya yang tak kalah pula dalam hal beribadah, melakukan demonstrasi di hadapan Tuhan. Ia menuntut keadilan, dan menyangka Tuhan telah silap. Di hadapan demonstran itu, Tuhan mendengarkan tuntutan si Haji. Lalu ditanyaNya si Haji tentang asal-muasalnya yang tinggal di Indonesia; negeri yang tanahnya subur, kaya tambang, tetapi diperbudak dan dikeruk hartanya oleh orang lain. Di negeri si Haji itu pula mereka saling bertengkar, dan rela melarat sehingga anak cucunya tetap juga melarat.

Si Haji mengelak. Meskipun mereka hidup melarat tetapi mereka semua tetap mejalankan perintah Tuhan, bahkan anak cucu mereka semua pintar mengaji. Tuhan mulai naik pitam, dihardiknya si Haji. Katanya, kalau betul engkau mengerjakan perintahKu, mengapa pula kau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua!

Kata Tuhan:

‘Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang aku menyuruh engkau semuanya beramal kalau engkau miskin. Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk disembah saja, hingga kerjamu lain tidak memuji-muji dan menyembah saja. Tidak. Kamu semua mesti masuk neraka. Hai, malaikat, halaulah mereka ini kembali ke neraka. Letakkan di keraknya!’

Si Haji menjadi pucat pasi. Digiringlah mereka kembali ke neraka. Tapi si Haji masih sempat bertanya pada malaikat yang menggiringnya. Tapi jawaban malaikat makin membuat hatinya kecut. Kata malaikat:

Kesalahan engkau, karena engkau terlalu mementingkan dirimu sendiri. Kau takut masuk neraka, karena itu kau taat bersembahyang. Tapi engkau melupakan kehidupan kaummu sendiri, melupakan kehidupan anak istrimu sendiri, sehingga mereka itu kucar-kacir selamanya. Inilah kesalahanmu yang terbesar, terlalu egoistis. Padahal engkau di dunia berkaum, bersaudara semuanya, tapi engkau tak mempedulikan mereka sedikit pun’.

***

Adapun cerpen “Datangnya dan Perginya” bercerita tentang seorang ayah yang dulu pernah biadab kepada anak-istrinya, yang kemudian bertobat, namun tak seluruhnya dapat terbebas dari dampak perbuatannya yang lalu-lalu. Kebejatan si Ayah dimulai saat istrinya meninggal. Ketika itu, anaknya si Masri masih berumur tiga tahun. Ia akhirnya kawin lagi, tetapi bahtera rumah tangganya tak menemui ketenangan. Ia mendambakan istri barunya berlaku seperti istrinya yang telah mati. Kehidupannya penuh cekcok dan akhirnya berujung pada perceraian. Hal itu dilakukan ketika istrinya sedang mengandung anak kedua.

Suami istri ini lalu berpisah, dan si Ayah kembali hidup berdua saja dengan anaknya, sedangkan istrinya pergi entah kemana dengan perutnya yang bunting. Konflik keluarga ternyata terus berlanjut karena anaknya, Masri, dengan mata kepalanya sendiri, memergoki Ayah-nya sedang berasyik-masyuk dengan seorang pelacur. Si anak diusir dan lalu kabur tak kembali lagi. 

Kejadian-kejadian itu lalu menginsyafkan si Ayah, sehingga ia kemudian berbalik menjadi orang baik, taat beribadah, dan memilih tidak kawin lagi. Lama si Ayah hidup dalam kesendirian, hingga akhirnya ia mendapat kabar bahwa anaknya kini telah berkeluarga. Masri, anaknya itu, mengirimnya surat dan foto seukuran poskar: foto Masri dan anak istrinya. Betapa rindunya si Ayah, dan betapa malunya ia harus bertemu dengan anak yang dulu pernah diusirnya. Tetapi perasaan kangen itu tak dapat lagi ditindihnya, sehingga ia memutuskan untuk menemui anaknya. Perjalanan jauh dengan kereta dilakoninya untuk meminta ampun kepada anaknya, dan menyaksikan langsung kebahagiaan anaknya kini.

Tapi malang, ketika di muka rumah sang anak, bukan anak yang dirindukannya yang nampak, melainkan mantan istrinya, Iyah, yang dulu diceraikannya saat hamil. Mereka lalu bertengkar tentang masa lalu mereka. Dan nyatalah kemudian, bahwa perbuataan masa lalunya punya ekor yang tak terduga: Masri anak lelakinya sudah kawin dengan anak perempuan Iyah yang dulu bercerai dengannya dalam keadaan bunting!

Terbit perasaan malu, bersalah, dan keinginan untuk menolak kenyataan itu. Di sisa usianya yang telah senja, ia tak mau mendapat tambahan dosa dengan mengetahui dosa besar itu, dosa inses yang dikutuk Tuhan. Ia tak mau menjadi bagian dari laknat Tuhan tersebut. Maka didesaknya mantan istrinya untuk mengatakan hal sebenarnya kepada Masri. Tapi Iyah berkukuh tak mau merusakkan keluarga kedua anaknya. Ia tak mampu membayangkan si Arni, anaknya, akan mengalami nasib yang sama seperti dirinya dulu: dicerai oleh suaminya, bahkan lebih buruk karena sudah beranak dua dan akan tiga karena Arni sedang bunting.

Pertengkaran dua orang uzur ini patut sekali untuk disimak:

‘Ini semua dosa Iyah. Dosa besar. Dosa bagi kita. Dosa bagiku, dosa bagi kau. Juga dosa bagi mereka. Aku harus memberi tahu mereka. Kalau selama ini aku telah mendapatkan keridaan Tuhan, kenapa pula harus kukotori di akhir hidupku?’

Oh, alangkah tamaknya kau. Maumu hanya supaya kau saja bebas dari akibat perbuatanmu yang salah dulu. Sehingga kini kau juga ingin merusakkan kebahagiaan anak-anakmu sendiri. Kau pikir, dapatkah ampunan itu dikejar dengan menyerahkan diri begitu saja tanpa berani menanggung risiko dari kesalahan yang telah kau lakukan sendiri? Akal kau, iman kau, hanya suatu ucapan pelarian dari ketakutan pada pembalasan atas kesalahanmu.

‘Kau murtad, Iyah!’

‘Lebih baik daripada orang sepengecut kau! Memang, adalah dosa besar kalau membiarkan mereka tidak tahu bahwa mereka bersaudara kandung. Tapi aku dari semula sudah salah. Aku kasip mengetahui hubungan darah mereka. Dalam hal ini mereka tidak salah. Dan selagi aku tidak mengatakan sesuatu, aku ditindih perasaan berdosa sepajang waktu. Tapi aku tahan tindihan itu bertahun-tahun lamanya. Sampai sekarang. Kurangkah imanku, kalau dosaku adalah dosaku. Dan dosaku itu takkan kubagi-bagikan ke orang lain, apalagi kepada anak-anakku? Kau sebagai laki-laki tak pernah merasakan pahitnya hidup bercerai dari suami. Aku merasakan itu. Dan aku tak rela kalau Arni akan menelan kepahitan seperti yang kutelan dulu.’


***

Kedua cerpen yang saya nukilkan ini menyiratkan satu hal yang sama: ketamakan untuk meraih surga sebagai pelampiasan kegagalan menjalani hidup di dunia. Surga adalah langkah eskapis yang paling mungkin dan janji yang paling menjanjikan, sehingga untuk mencapainya manusia kerap berlaku serakah dan lupa akan kehidupan sosial yang mengitarinya. 

Contoh ekstrim perilaku tamak juga dapat ditemui dalam praktik “syahid” yang dipilih oleh para pengebom bunuh diri. Seorang “pengantin” (sebutan untuk pembom bunuh diri) misalnya, dengan egoisnya ingin mencapai surga dengan cara yang konyol. Ia tak ambil pusing dengan dampak yang bakal ditimbulkannya: orang-orang yang meninggal tanpa tahu kesalahannya apa, anak-anak yang ditinggal bapak/ibunya, juga anak-istrinya sendiri yang bakal “merana” karena ditinggal bapaknya yang egois ingin mencapai surga sendirian. Ya, sendirian! Sebab di sana ia berharap akan bertemu dengan bidadari, yang tentu jauh lebih cantik daripada istrinya sendiri.

Saya sepakat dengan pemahaman bahwa ibadah tidak harus selalu berorientasi kepada pahala dan/atau surga. Sebab, ibadah sejatinya adalah jalan untuk meraih keridaan Tuhan. Setiap orientasi yang sifatnya balasan kenikmatan di akhirat (seperti surga, bidadari, maupun sungai-sungai susu yang mengitarinya), saya kira seperti sikap pedagang yang selalu ingin untung. Sama halnya dengan tren sedekah yang diiming-imingi akan melipatgandakan rezeki, bukan lagi ditujukan untuk mengharap keridaan Tuhan. Keridaan Tuhan ini seharusnya menjadi tujuan yang transenden, sehingga ia mengatasi tujuan lain yang sifatnya untung-rugi.

Dua cerpen ini saya kira masih cukup relevan untuk direnungkan hingga hari ini. Sebab, masih banyak kita temukan orang-orang yang dengan gelojoh mencari dan mengumpulkan remah pahala hanya untuk dirinya sendiri. Juga orang-orang yang enggan mengakui perbuatan dosanya di masa lalu, yang berakibat fatal bagi orang lain hingga masa kini. Dua cerpen ini juga mengajak kita untuk berkaca: apakah ibadah yang kita lakukan lebih karena takut terpanggang panasnya api neraka dan ingin mendapat balasan surga, atau betul-betul sebagai laku makhluk yang hanya ingin mendapat rida sang Khalik?

Wallahua’lam…

Oleh: Lukman Solihin

Copy-pasted from membingkai perspektif

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s