POWER RANGERS: Kembalinya Pasukan Pelangi


It’s Morphin Time!” Masih ingatkah dengan “mantra” yang ngehit di tahun 1990-an itu? Begitu kata ajaib tersebut diucapkan, sekumpulan remaja berubah menjadi pahlawan super berkostum warna-warni yang siap membela kebenaran. Kini, Power Rangers kembali. Setelah 22 tahun berlalu, akankah kekuatan super mereka masih menarik hati para penggemarnya?

Mighty Morphin Power Rangers merupakan serial televisi pahlawan super Amerika populer yang mengadaptasi cerita dari Super Sentai buatan negeri Sakura. Tahun ini, Saban Company selaku produsen dari serial tersebut bersama Lionsgate menciptakan kembali pahlawan super remaja itu ke dalam bentuk film layar lebar.

Film Power Rangers dimulai dengan kejadian 75 ribu tahun yang lalu. Pertarungan sengit antara Zordon dan rangers lainnya melawan Rita Repulsa dan monster emasnya, Goldar. Di akhir pertarungan, Zordon mati. Rita lenyap ke dalam laut.

Power Rangers Movie Poster

Power Rangers (Amazon)

Cerita beralih ke masa kini. Sekelompok nelayan di atasnya, sibuk mengangkat jaring ikan mereka. Malam itu, mereka mendapat tangkapan yang tak biasa. Sesosok mayat wanita menyangkut di jaring ikan mereka.

Di waktu yang bersamaan, Jason Scott, mantan bintang American Football Angel Grove, terpaksa mengikuti kelas detensi dengan Kimberly, cewek populer yang bermasalah dan Billy, si jenius yang aneh.

Pertemanan mereka bersama Trini dan Zack dimulai dengan kejadian di sebuah tambang. Saat Billy meledakkan dinding tambang, mereka menemukan kristal aneh memancar dari dalam dinding.

Lama terpesona, mereka tak sadar jika petugas tambang telah memergoki mereka. Tak ayal, kelimanya langsung kabur tak tentu arah. Namun, di tengah pelarian, sebuah kecelakaan mengerikan menimpa mereka. Anehnya, mereka selamat dan malah bertambah kuat.

Pertemuannya dengan Zordon menjawab semua keanehan yang mereka alami. Mereka mulai berlatih menjadi Power Rangers. Namun, pelatihan itu tidak berjalan mulus. Konflik antar mereka pun terjadi. Di saat yang bersamaan, Rita sedang mengumpulkan emas untuk menghidupkan kembali Goldar.

Pecinta Power Rangers yang telah menonton film reboot dari ini mungkin akan kecewa. Film Power Rangers yang ditulis John Gatins ini memang jauh berbeda dari serial televisinya. Tagline yang sering keluar di versi aslinya pun jarang dimunculkan di film ini, seperti “It’s Morphin Time!!!” dan “Aiyaya…”.

Karakter dari tokoh utama ikut berubah. Meskipun semua tokoh utama memiliki nama yang sama, tetapi sifat dan karakter mereka sangat berbeda dengan versi aslinya. Karakter dalam film ini diceritakan sebagai anak remaja yang bermasalah, sedangkan versi aslinya justru berkebalikan. Kelima remaja dalam versi asli merupakan pelajar terbaik di sekolahnya dengan berbagai bakat yang dimiliki.

Penggambaran Zordon dan Rita pun diceritakan berbeda. Sejarah Zordon dan Rita yang cukup mengejutkan dan baru menjadi salah satu nilai plus dari film ini. Banyaknya perubahan dari serial aslinya membuat penonton merasa seperti dikenalkan dengan  Power Rangers yang berasal dari dunia lain.

Selain itu, beberapa tokoh dalam versi asli dihilangkan seperti Paul dan Skull. Namun, tokoh lain, seperti orang tua dan keluarga ditambahkan guna memperlihatkan kehidupan Power Rangers seperti remaja pada umumnya dengan segala permasalahannya. Namun, kehadiran mereka belum mampu memperkuat jalannya cerita.

Alur cerita dair Power Rangers ini pun kurang disajikan secara menarik. Kompleksitas dunia remaja yang berubah menjadi pahlawan tidak dapat membawa emosi penonton masuk ke dalamnya. Pertarungan yang ditampilkan pun kurang seru dan tidak memberikan kejutan. Sangat standar.

Adegan yang harusnya menjadi klimaks cerita tidak terasa. Pertarungan yang terjadi antara superhero dan penjahatnya sekedar ditampilkan sebagai template cerita superhero dengan visual efek dan iringan musik yang berdentum.

Meskipun begitu, akting para pemain mudanya cukup mengekspresikan karakter yang mereka bawa dengan cukup baik. Akting artis senior Elizabeth Banks yang berperan sebagai Rita Repulsa tak perlu diragukan lagi. Hanya saja, jatah yang diberikan kurang untuk mengeksplor karakter yang dibawanya. Karakter Rita Repulsa pun terkesan lemah, tidak memberian perlawanan sengit, dan kurang berarti.

Selain cerita dan karakter tokoh-tokohnya, perbedaan yang paling menonjol ditunjukkan pada kostum baru Power Rangers. Tidak seperti versi lamanya yang menggunakan spandeks dan terlihat ringkih, Power Rangers yang ini telah meng-upgrade kostumnya menjadi ala-ala Iron Man dan War Machine.

Andrew Menzies sang Production Designer mengungkapkan bahwa pergantian kostum dimaksudkan untuk menarik penonton yang lebih dewasa untuk mendapatkan penggemar yang baru. Sayangnya, desain kostum futuristik ini malah dikritik habis-habisan. Kostum baru tersebut dianggap terlalu mengeksploitasi tubuh wanita. Terutama pada bagian dada. Kostum ini juga dianggap terlalu meniru gaya Iron Man, tetapi sayang tidak lebih baik.

Visual efek yang digunakan dalam film ini bisa dibilang biasa saja jka dibandingkan dengan film superhero lainnya. Meskipun begitu, Bryan Tyler, sang komposer, mampu membungkus film ini menjadi lebih menarik dengan suara musik yang menghentak. Tak heran, Tyler sendiri sudah berpengalaman mengaransemen soundtrack untuk film bergenre action-thriller lainnya, seperti beberapa seri Fast and Furious, Iron Man 3, Final Destination, The Expendables, dan Now You See Me.

Secara keseluruhan, film berdurasi 2 jam lebih ini belum cukup mampu memuaskan penontonnya. Penggemar film superhero pun rasa-rasanya tidak akan senang melihat film ini.  Alur cerita yang terlalu standar dan mudah ditebak membuat film ini masih kalah kelas dibanding film pahlawan super buatan Marvel atau DC.

 Power Rangers memang identik dengan tontonan anak-anak. Namun, untuk versi film kali ini, orang tua yang membawa anaknya menonton disarankan untuk melakuan pendampingan karena Power Rangers versi baru ini menampilkan kostum sedikit vulgar dan seksi.

Adegan bertarung dinilai tidak cukup ekstrim. Namun, ada adegan Rita melawan Trini yang sedikit membahayakan dan mudah ditiru anak-anak. Penggambaran LGBT dalam film yang sempat membuat penonton heboh bisa saja membahayakan pola pikir anak yang sedang menonton sehingga orang tua perlu memberikan perhatian lebih.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s